Menciptakan Kepribadian Kharismatik
By : Mahmud Abdullah (Secretary of Central Intelegence Agency)
1. Jiwa KharismatikSebagian orang percaya bahwa karisma diturunkan dari langit dan hanya untuk orang-orang terpilih saja. Karisma sering disebut sebagai ‘X factor’ ketika kita tidak bisa menjelaskan secara pasti apa yang membuat kita tersihir, tertarik dengan orang tersebut meskipun baru pertama kali bertemu. Hanya bisa dirasakan namun sulit dijelaskan semakin menambah nuansa mistis seputar karisma.
Collins English Dictionary mendefinisi Charisma sebagai berikut:
1. a special personal quality or power of an individual making him capable of influencing or inspiring large numbers of people
2. A quality inherent in a thing which inspires great enthusiasm and devotion
3. (Ecclesiastical Terms) Christianity a divinely bestowed power or talent
Menurut definisi diatas karisma diduga berasal
dari faktor kualitas pribadi seseorang dan berkah Ilahi dengan tujuan
mempengaruhi dan menginspirasi orang lain.
Sekolah kepribadian maupun motivator mengajarkan
berbagai trik untuk meningkatkan karisma seperti menjabat tangan secara
mantap, berpenampilan rapih profesional , berbicara dengan suara lantang
dengan kata-kata memukau, menatap mata lawan bicara dsb. Namun itu
semua hanyalah buatan dan efek karisma yang didapat tidak akan bertahan
lama.
Orang karismatik datang dari berbagai kepribadian
dan latar belakang yang berbeda. John F Kennedy dan Adolf Hitler
sama-sama karismatik dan mampu membakar semangat audiens lewat
pidato-pidato mereka. Tapi dari segi ketampanan mereka sama sekali
berbeda. Kennedy tampan seperti bintang film Hollywood sedangkan Hitler
berwajah lucu seperti pelawak Jojon.
Bila dalam pidato suara mereka terkesan berapi-api,
lain halnya dengan mendiang Nelson Mandella yang berpidato dengan suara
lembut (malah bikin ngantuk) namun tetap saja karismanya tidak kalah.
Bill Clinton berkepribadian hangat dan selama menjabat sebagai presiden
terkenal dengan kebijakannya yang sentris berusaha mencari konsensus
dari berbagai pihak. Sedangkan mendiang Steve Jobs kepribadiannya sangat
keras, diktatoris, cenderung kasar suka sumpah serapah tapi tetap saja
publik dan lingkaran dekatnya di Apple tidak sanggup menolak karismanya.
Aura karisma dapat diperoleh dengan latihan. Mempelajari bahasa tubuh hanyalah bagian kecil dari latihan. Setiap orang bisa memiliki karisma sesuai dengan kepribadiannya masing-masing.
Dalam lingkungan yang kompetitif dimana semua orang berebut mendapatkan
perhatian, kemampuan mempengaruhi orang untuk sejalan dengan idealisme,
misi dan ide kita sama pentingnya dengan kompetensi teknis.
Belajar memperoleh karisma sama sekali bukan
bersikap manipulatif. Mempelajari efek karisma sama saja dengan
mempelajari psikologi manusia. Aura karisma yang autentik berasal dari karakter individu yang bersangkutan bukan trik-trik murahan tanpa substansi.
Bila teori psikologi Myers-Briggs membagi
kepribadian menjadi 16 tipe, untuk tujuan artikel ini penulis membagi
kepribadian karismatik menjadi 3 tipe. Seperti teori kepribadian pada
umumnya, tidak ada individu yang murni masuk 1 tipe saja. Tipe-tipe
dibawah melukiskan karakter dominan individu. Semakin kepribadian Anda
sejalan dengan tipe karisma semakin mudah Anda memancarkan aura karisma
dan terlihat autentik.
Kenali kepribadian Anda. Identifikasi tipe
kepribadian karismatik mana yang paling mendekati kepribadian dan
pancarkan aura karisma dengan percaya diri.
Visionary
“Landing a man on the moon and returning him safely to earth – John F Kennedy
Kita bisa mengenal tipe karisma ini lewat visinya
yang memberi kesan “larger than life”, berjiwa perintis, ambisius,
progresif,berani mencoba sesuatu yang belum pernah dilakukan meskipun
resiko gagal tinggi. Daya magnetnya terletak pada kebesaran visi dan
kemampuannya melambungkan imajinasi pendengar. Tipe ini menjawab sikap
skeptis pendengar mengenai visinya dengan menggugah emosi kejayaan masa
lalu dan masa depan yang lebih cerah.
Contoh: John F Kennedy dalam pidatonya di kongres
tanggal 25 Mei 1961 menegaskan komitmennya mengirim manusia ke bulan.
Pada tahun berikutnya tanggal 12 September 1962 dalam pidatonya di Rice
University, Kennedy kembali menegaskan bahwa Amerika harus ke bulan
karena mustahil menjadi negara super power bila Amerika tertinggal
dengan Uni Soviet dalam space race demi meningkatkan gengsi bangsa
Amerika di mata internasional dan kemajuan teknologi meskipun biayanya
mahal.
Lewat program space race, Kennedy secara tidak
langsung menghidupkan kembali makna menjadi seorang Amerika: memiliki
jiwa pionir dan terus melakukan terobosan demi kemajuan. Dalam pidato
pelantikannya sebagai presiden AS ke 35 tanggal 20 Januari 1961, Kennedy
juga mengingatkan pentingnya orang Amerika menjadi warga negara yang
aktif membangun negara: “Jangan bertanya apa yang negara dapat berikan,
tapi bertanyalah apa yang dapat kau berikan pada negara”
Masa jabatan presiden Kennedy singkat dan banyak
visi mendaratkan manusia di bulan baru terealisasi setelah dia
meninggal. Namun itu semua tidak mengurangi imejnya sebagai presiden
visioner yang karismatik.
Fearless
“I learned that courage was not the absence of
fear, but the triumph over it. The brave man is not who does not feel
afraid, but who conquer that fear” – Nelson Mandela
Daya tarik karisma tipe ini terletak pada sikapnya
yang tidak kenal kompromi, tidak takut mati demi mempertahankan
idealismenya. Di tengah budaya masyarakat yang suka cari aman saja,
bersedia kompromi karena takut ‘rugi’ (baik harta, kedudukan sosial dan
kenyamanan hidup) dan menghindari konfrontasi langsung karena takut
menjadi sasaran tembak, sosok Fearless menginspirasi kita bahwa yang
harus kita takuti adalah rasa takut itu sendiri.
Contoh: Mahatma Gandhi berbusana sangat sederhana
bahkan seperti pengemis. Gandhi tidak punya kedudukan sosial, uang
ataupun backingan militer. Namun Gandhi berani melawan penjajah Inggris
dan pada saat yang bersamaan berhasil menginspirasi rakyat India untuk
berjuang bersamanya lewat gerakan Ahimsa (tanpa kekerasan).
Mirip dengan Gandhi, Nelson Mandela juga berasal dari keluarga kelas
menengah berpendidikan dan sesungguhnya mereka bisa saja tutup mata dan
hidup enak sebagai pengacara.
Dari negeri sendiri, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)
termasuk kategori pemimpin karismatik tipe dominan Fearless. Ahok punya
istri, anak-anak dan harta namun itu semua tidak mencegahnya bersikap
tanpa tendeng aling-aling dalam mempertahankan konstitusi. Lulung
mungkin benar, Ahok perlu periksa kejiwaan.
Aura karisma hampir pasti tumbuh pada orang-orang
yang keputusan hidupnya melawan logika dan realitas lapangan. Kita tidak
bisa tidak terinspirasi melihat orang-orang seperti ini. Lewat sikapnya
yang tidak kenal takut seolah-olah mereka berkata: “f*ck you, I don’t
give a damn about fear”.
Tipe karisma ini tentu saja menuai pengikut fanatik dan pembenci yang sama fanatiknya karena keteguhan hatinya.
Messiah
Tipe karismatik ini mungkin paling ‘mistis’
diantara dua tipe sebelumnya. Mereka yang memiliki aura karisma Messiah
(juru selamat) merasa bahwa mereka terpilih menjalankan takdir agung
yang sudah digariskan. Keyakinan diri mereka akan takdir agung sangat
kuat. Kita tertarik karena pancaran percaya diri mereka yang luar biasa.
Mereka selalu terlihat mantap, tidak ada keraguan sedikitpun dan tahu
betul apa yang harus dilakukan.
Dalam rutinitas hidup yang menoton nan membosankan,
mereka menyiratkan bahwa seolah-olah dengan mengikutinya kita menjadi
bagian dari sebuah takdir agung. Bila dua tipe karsima sebelumnya dapat
dilakukan pada skala kecil, maka tipe Messiah umumnya bermain di
panggung nasional.
Contoh: Adolf Hitler percaya ras Aryan sebagai ras
termurni dan satu-satunya yang berhak memimpin Eropa lewat hegemoni
kepemimpinan partai Nazi. Depresi ekonomi dan referendum Jerman pada
tahun 1929 menaikan profil Hitler sebagai pemimpin nasional beraura juru
selamat. Contoh lain, Jim Jones pemimpin spritual Peoples Temples yang
berhasil membujuk umatnya melakukan bunuh diri massal pada tahun 1978.
Semakin labil kepribadian pendengar, semakin mudah
karisma Messiah merasuki diriya. Tipe Karisma tahu cara memainkan
keinginan terpendam pendengar yang ingin ‘diselamatkan’ dari
keterpurukan/kehilangan makna hidup demi melaggengkan ideologi, visi
maupun ambisi pribadinya.
****
Mereka yang berkepribadian suka asal labrak mungkin
lebih cocok mengadopsi karisma tipe Fearless. Sementara yang berjiwa
optimis, periang (sanguinis) mungkin tipe Visioner atau Messiah lebih
pas.
Terlepas dari tiga tipe karismatik diatas, berikut kriteria umum tambahan yang dimiliki orang berkarisma:
- Tidak pernah mengeluh hal remeh temeh (“sebel iiiiiihh hujan melulu!”)
- Melibatkan emosi dalam menginspirasi lawan bicara
- Tahu cara dan kapan menciptakan suasana drama untuk mendapatkan dukungan
- Ada aksi dan hasil nyata meskipun kecil atau hanya bersifat simbolis
- Berani menjadi diri sendiri
Pada akhirnya karisma adalah sebuah seni
seorang individu dalam mempengaruhi/menginspirasi dalam waktu, suasana
dan cara yang tepat dengan mengeksploitasi sisi emosi psikologis
audiens. Mereka yang kebal terhadap aura karisma adalah mereka mampu
berpikir jernih, logis, bersikap detasemen, memiliki prinsip hidup yang
mantap dan bisa jadi mereka sendiri punya karisma.
Jadi siapa bilang karisma itu dari langit :)
2. Kepribadian
Kepribadian oleh DRA.RAISAHSURBAKTI,MPD Istilah personality berasal dari kata latin “persona” yang berarti topeng atau kedok, yaitu tutup muka yang sering dipakai oleh pemain-pemain panggung, yang maksudnya untuk menggambarkan perilaku, watak, atau pribadi seseorang. Bagi bangsa Roma, “persona” berarti bagaimana seseorang tampak pada orang lain. Menurut Agus Sujanto dkk (2004), menyatakan bahwa kepribadian adalah suatu totalitas psikofisis yang kompleks dari individu, sehingga nampak dalam tingkah lakunya yang unik.nSedangkan personality menurut Kartini Kartono dan Dali Gulo dalam Sjarkawim (2006) adalah sifat dan tingkah laku khas seseorang yang membedakannya dengan orang lain; integrasi karakteristik dari struktur-struktur, pola tingkah laku,minat, pendiriran, kemampuan dan potensi yang dimiliki seseorang; segala sesuatu mengenai diri seseorang sebagaimana diketahui oleh orang lain. Allport juga mendefinisikan personality sebagai susunan sistem-sistem psikofisik yang dinamis dalam diri individu, yang menentukan penyesuaian yang unik terhadap lingkungan. Sistem psikofisik yang dimaksud Allport meliputi kebiasaan, sikap, nilai, keyakinan, keadaan emosional, perasaan dan motif yang bersifat psikologis, tetapi mempunyai dasar fisik dalam kelenjar, saraf, dan keadaan fisik anak secara umum. Menurut Alport dalam Setyobroto (2005) kepribadian merupakan organisasi dinamis meliputi sistem psiko-fisik yang menentukan ciri-ciri tingkah laku yang tercermin dalam cita-cita, watak, sikap dan sifat-sifat serta perbuatan manusia”.Dalam konteks organisasi, kepribadian didefinisikan oleh Kreitner dan Kinicki (2005) sebagai gabungan ciri fisik dan mental yang relative stabil yang memberi kesan identitas pada individu. Ciri-ciri ini termasuk bagaimana penampilan, pikiran, tindakan, dan perasaan seseorang merupakan hasil dari pengaruh genetik dan lingkungan yang saling berinteraksi. Robbins (2007) mendefinisikan kepribadian sebagai organisasi dinamis dalam sistem psikologis individu yang menentukan caranya untuk menyesuaikan diri secara unik terhadap lingkungannya. Dari pengertian pengertian kepribadian di atas maka kepribadian menurut peneliti adalah tingkah laku seseorang termasuk bagaimana penampilan, pikiran, tindakan, dan perasaan seseorang merupakan hasil dari pengaruh genetik dan lingkungan yang saling berinteraksi Faktor-Faktor Pembentuk Kepribadian Faktor Keturunan Keturunan merujuk pada faktor genetis seorang individu. Tinggi fisik, bentuk wajah, gender, temperamen, komposisi otot dan refleks, tingkat energi dan irama biologis adalah karakteristik yang pada umumnya dianggap, entah sepenuhnya atau secara substansial, dipengaruhi oleh siapa orang tua dari individu tersebut, yaitu komposisi biologis, psikologis, dan psikologis bawaan dari individu. Terdapat tiga dasar penelitian yang berbeda yang memberikan sejumlah kredibilitas terhadap argumen bahwa faktor keturunan memiliki peran penting dalam menentukan kepribadian seseorang. Dasar pertama berfokus pada penyokong genetis dari perilaku dan temperamen anak-anak. Dasar kedua berfokus pada anak-anak kembar yang dipisahkan sejak lahir. Dasar ketiga meneliti konsistensi kepuasan kerja dari waktu ke waktu dan dalam berbagai situasi. Penelitian terhadap anak-anak memberikan dukungan yang kuat terhadap pengaruh dari faktor keturunan. Bukti menunjukkan bahwa sifat-sifat seperti perasaan malu, rasa takut, dan agresif dapat dikaitkan dengan karakteristik genetis bawaan. Temuan ini mengemukakan bahwa beberapa sifat kepribadian mungkin dihasilkan dari kode genetis sama yang memperanguhi faktor-faktor seperti tinggi badan dan warna rambut. Para peneliti telah mempelajari lebih dari 100 pasangan kembar identik yang dipisahkan sejak lahir dan dibesarkan secara terpisah. Ternyata peneliti menemukan kesamaan untuk hampir setiap ciri perilaku, ini menandakan bahwa bagian variasi yang signifikan di antara anak-anak kembar ternyata terkait dengan faktor genetis. Penelitian ini juga memberi kesan bahwa lingkungan pengasuhan tidak begitu memengaruhi perkembangan kepribadian atau dengan kata lain, kepribadian dari seorang kembar identik yang dibesarkan di keluarga yang berbeda ternyata lebih mirip dengan pasangan kembarnya dibandingkan kepribadian seorang kembar identik dengan saudara-saudara kandungnya yang dibesarkan bersama-sama. Faktor Lingkungan Faktor lain yang memberi pengaruh cukup besar terhadap pembentukan karakter adalah lingkungan di mana seseorang tumbuh dan dibesarkan; norma dalam keluarga, teman, dan kelompok sosial; dan pengaruh-pengaruh lain yang seorang manusia dapat alami. Faktor lingkungan ini memiliki peran dalam membentuk kepribadian seseorang. Sebagai contoh, budaya membentuk norma, sikap, dan nilai yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya dan menghasilkan konsistensi seiring berjalannya waktu sehingga ideologi yang secara intens berakar di suatu kultur mungkin hanya memiliki sedikit pengaruh pada kultur yang lain. Misalnya, orang-orang Amerika Utara memiliki semangat ketekunan, keberhasilan, kompetisi, kebebasan, dan etika kerja Protestan yang terus tertanam dalam diri mereka melalui buku, sistem sekolah, keluarga, dan teman, sehingga orang-orang tersebut cenderung ambisius dan agresif bila dibandingkan dengan individu yang dibesarkan dalam budaya yang menekankan hidup bersama individu lain, kerja sama, serta memprioritaskan keluarga daripada pekerjaan dan karier. (Robbins, 2007):memberi defenisi karakteristik kepribadian seseorangsebagaiberikut : 1. Ekstraver versus Introvert. Individu dengan karakteristik ekstravert digambarkan sebagai individu yang ramah, suka bergaul, dan tegas. Sedangkan individu dengan karakteristik introvert digambarkan sebagai individu yang pendiam dan pemalu 2. Sensitif versus Intuitif. Individu dengan karakteristik sensitif digambarkan sebagai individu yang praktis dan lebih menyukai rutinitas dan urutan. Mereka berfokus pada detail. Sebaliknya, individu dengan karakteristik intuitif mengandalkan proses-proses tidak sadar dan melihat gambaran umum 3. Pemikir versus Perasa. Individu yang termasuk dalam karakteristik pemikir menggunakan alasan dan logika untuk menganangi masalah, sednagkan individu dengan karakteristik perasa mengandalkan nilai-nilai dan emosi pribadi mereka 4. Memahami versus Menilai. Individu yang cenderung memiliki karakteristik memahami menginginkan kendali dan lebih suka dunia mereka teratur dan terstruktur, sedangkan individu dengan karakteristik menilai cenderung lebih fleksibel dan spontan. Model Kepribadian Lima Besar (Kepribadian the Big Five) Kepribadian lima besar meliputi ekstaversi (extravertion), mudah akur atau mudah bersepakat (agreeableness), sifat berhati-hati (conscientiousness), stabilitas emosi (emotional stability), dan terbuka terhadap hal-hal baru (openness to experience). 1. Esktraversi. Dimensi ini mengungkapkan bahwa tingkat kenyamanan seseorang dalam berhubungan dengan individu lain. Individu yang memiliki sifat ekstraversi cenderung suka hidup berkelompok, tegas, dan mudah bersosialisasi. Sebaliknya individu yang memiliki sifat introvert cenderung suka menyendiri, penakut dan pendiam. 2. Mudah akur atau bersekapakat. Dimensi merujuk pada kecenderungan individu untuk patuh terhadap individu lainnya. Individu sangat mudah bersepakat adalah individu yang tidak mudah bersepakat cenderung bersikap dingin, tidak ramah, dan suka menentang. 3. Sifat kehati-hatian. Dimensi ini merupakan ukuran kepercayaan. Individu yang sangat berhati-hati adalah individu yang bertanggungjawab, teratur, dapat diandalkan, dan gigih. Sebaliknya, individu dengan dengan sifat kehati-hatian yang rendah cenderung mudah bingung, tidak teratur, dan tidak bisa diandalkan. 4. Stabilitas emosi. Sering juga disebut berdasarkan kebalikannya yaitu neurosis. Dimensi ini menilai kemampuan seseorang untuk menahan stres. Individu dengan stabilitas emosi positif cenderung tenang, pecaya diri dan memiliki pendirian yang teguh. Sementara individu dengan stabilitas emosi yang negatif cenderung mudah gugup, khawatir, depresi, dan tidak memiliki pendirian yang teguh. 5. Terbuka terhadap hal-hal baru. Dimensi ini merupakan dimensi terakhir yang mengelompokkan individu berdasarkan lingkup minat dan ketertarikannya terhadap hal-hal baru. Individu yang sangat terbuka, kreatif, ingin tau dan sensitif terhadap hal yang bersifat seni. Sebaliknya mereka yang tidak terbuka cenderung memiliki sifat konvensional dan merasa nyaman dengan hal-hal yang telah ada.
Kharismatik diyakini memiliki sesuatu yang luar biasa. Memimpin dengan cara yang tidak lazim dari sesuatu yang telah dikenal. Serta mampu mematahkan hal-hal terdahulu untuk kemudian menciptakan hal-hal baru bersifat revolusioner yang mampu tumbuh dalam keadaan serumit apapun.
Dari segi kemunculannya, kharisma yang disematkan pada seorang pemimpin lazimnya terlontar pada persepsi rakyat yang dipimpinnya. Dengan demikian, dapat didefinisikan kembali (tanpa keluar dari maksud Weber yang hakiki) Kharismatik adalah kemampuan seorang pemimpin untuk mendapatkan kehormatan, ketaatan serta kehebatannya sebagai sumber dari kekuasaan tersebut dengan penekanan dalam setiap interaksinya (antara pemimpin dan pengikutnya) harus terdapat suatu integritas yang continue. Dengan kata lain, diwajibkan akan adanya kesadaran pada benak kita untuk bersatu pada satu tujuan, satu keinginan, satu cita-cita, satu harapan, dan satu perjuangan. Kemudian, barulah kita berharap akan muncul sosok pemimpin kharismatik yang dicintai, dihargai, dan dihormati.
Tentu saja, pemimpin kharismatik adalah pemimpinan nasional yang mampu menggandeng semua kelompok, golongan, etnis, suku, agama dan siapapun saja untuk mendapatkan kesetiaan.
*sengaja dibagi kedalam beberapa part, agar tidak bosan dalam membaca.
Anda mungkin pernah menemukan pemimpin yang begitu memukau anda. Kalau mereka bicara, kita terpesona oleh kata-kata mereka dan tertarik oleh argumentasi mereka yang kita tidak mampu membantahnya.
Mereka agaknya memiliki energi yang sulit dijelaskan dan mampu memberikan inspirasi dan motivasi pada diri kita. Mereka mampu menyentuh getar emosi kita melebihi pikiran rasional kita.
Banyak hal terjadi kalau mereka ada di sekitar kita. Tiba-tiba ada perubahan. Tiba-tiba kita mau melaksanakan yang mereka anjurkan tanpa terlalu banyak protes. Tiba-tiba kita merasa bangga hanya dekat dengan pemimpin itu. Kita mungkin juga bekerja demikian keras agar kita bisa melampaui harapan pemimpin itu.
Di atas segalanya, kita digerakkan oleh mereka, dan sering, kita jadi pengikut mereka. Apa inti kekuatan mereka? Karisma. Ya inilah penyebabnya. Tapi ketika kita berusaha mengungkap karisma itu, dan berusaha menirunya, kita mengalami kesulitan.
Pelatihan ini akan membongkar secara tuntas apa saja yang membuat pemimpin menjadi pemimpin karismatik. Dengan berbagai riset yang intensif, ‘rahasia’ pemimpin karismatik telah terungkap tuntas. Ternyata siapa pun bisa menjadi orang karismatik, asal tahu caranya…Dengan mengikuti pelatihan ini, anda akan menemukan taktik, dan strategi yang bisa anda terapkan sehingga anda bisa menjadi seorang yang karismatik atau menjadi pemimpin karismatik.
Mengapa harus karismatik? Karena dengan menjadi karismatik, anda akan menjadi pusat perhatian orang. Kata-kata anda dituruti orang. Jika anda penjual, penjualan akan mudah. Jika anda dosen, kata-kata anda akan didengar mahasiswa. Jika anda pemimpin, bawahan anda akan patuh dengan sepenuh hati kepada anda…
Artikel kali ini membahas tentang kepemimpinan yang menurut saya membutuhkan interaksi antara pimpinan dan bawahan. Dengan kharismatik bawahan akan merasa nyaman anda pimpin dan menuruti arahan anda. Dalam teori kepemimpinan ada 3 jenis kepemimpinan, yaitu :
1. Modern Choice Approach to Participation (Vroom & Yetton)
Model ini mengarah kepada pemberian suatu rekomendasi tentang gaya kepemimpinan yang sebaiknya digunakan dalam situasi tertentu.Menurut teori ini, gaya kepemimpinan yang tepatditentukan oleh corak persoalan yang dihadapioleh macam keputusanyang harus diambil. Ada tiga perangkat parameter yang penting dalam gaya kepemimpinan teori ini, yaitu klasifikasi gaya kepemimpinan, kriteria efektifitas keputusan, kriteria penemukenalan jenis situasi pemecahan persoalan.
2. Contingensi of Leadership (Fiedler)
Model ini menyatakan bahwa gaya kepemimpinan yang paling efektif tergantung pada situasi yang dihadapi dan perubahan gaya bukan merupakan suatu hal yang sulit. Konsepsi kepemimpinan situasional ini melengkapi pemimpin dengan pemahaman dari hubungan antara gaya kepemimpinan yang efektif dengan tingkat kematangan bawahannya. Perilaku bawahan ini amat penting untuk mengetahui kepemimpnan situasional, karena bukan saja bawahan sebagai individu bisa menerima atau menolak pemimpinnya, akan tetapi sebagai kelompok, bawahan dapat menentukan kekuatan pribadi apapun yang dimiliki pemimpin.Model ini menyatakan bahwa keefektifan suatu kelompok bergantung pada hubungan dan interaksi pemimpin dengan bawahannya, dan sejauh mana pemimpin mengendalikan dan mempengaruhi situasi.
3. Path-Goal Theory
Dasar dari teori ini adalah bahwa merupakan tugas pemimpin untuk membantu anggotanya dalam mencapai tujuan mereka dan untuk memberi arah dan dukungan atau keduanya yang dibutuhkan untuk menjamin tujuan mereka sesuai dengan tujuan kelompok atau organisasi secara keseluruhan. Model ini menganjurkan bahwa kepemimpinan terdiri dari dua fungsi dasar, yaitu memberi kejelasan alur dan meningkatkan jumlah hasil (reward) bawahannya.
2. Kepribadian
Kepribadian oleh DRA.RAISAHSURBAKTI,MPD Istilah personality berasal dari kata latin “persona” yang berarti topeng atau kedok, yaitu tutup muka yang sering dipakai oleh pemain-pemain panggung, yang maksudnya untuk menggambarkan perilaku, watak, atau pribadi seseorang. Bagi bangsa Roma, “persona” berarti bagaimana seseorang tampak pada orang lain. Menurut Agus Sujanto dkk (2004), menyatakan bahwa kepribadian adalah suatu totalitas psikofisis yang kompleks dari individu, sehingga nampak dalam tingkah lakunya yang unik.nSedangkan personality menurut Kartini Kartono dan Dali Gulo dalam Sjarkawim (2006) adalah sifat dan tingkah laku khas seseorang yang membedakannya dengan orang lain; integrasi karakteristik dari struktur-struktur, pola tingkah laku,minat, pendiriran, kemampuan dan potensi yang dimiliki seseorang; segala sesuatu mengenai diri seseorang sebagaimana diketahui oleh orang lain. Allport juga mendefinisikan personality sebagai susunan sistem-sistem psikofisik yang dinamis dalam diri individu, yang menentukan penyesuaian yang unik terhadap lingkungan. Sistem psikofisik yang dimaksud Allport meliputi kebiasaan, sikap, nilai, keyakinan, keadaan emosional, perasaan dan motif yang bersifat psikologis, tetapi mempunyai dasar fisik dalam kelenjar, saraf, dan keadaan fisik anak secara umum. Menurut Alport dalam Setyobroto (2005) kepribadian merupakan organisasi dinamis meliputi sistem psiko-fisik yang menentukan ciri-ciri tingkah laku yang tercermin dalam cita-cita, watak, sikap dan sifat-sifat serta perbuatan manusia”.Dalam konteks organisasi, kepribadian didefinisikan oleh Kreitner dan Kinicki (2005) sebagai gabungan ciri fisik dan mental yang relative stabil yang memberi kesan identitas pada individu. Ciri-ciri ini termasuk bagaimana penampilan, pikiran, tindakan, dan perasaan seseorang merupakan hasil dari pengaruh genetik dan lingkungan yang saling berinteraksi. Robbins (2007) mendefinisikan kepribadian sebagai organisasi dinamis dalam sistem psikologis individu yang menentukan caranya untuk menyesuaikan diri secara unik terhadap lingkungannya. Dari pengertian pengertian kepribadian di atas maka kepribadian menurut peneliti adalah tingkah laku seseorang termasuk bagaimana penampilan, pikiran, tindakan, dan perasaan seseorang merupakan hasil dari pengaruh genetik dan lingkungan yang saling berinteraksi Faktor-Faktor Pembentuk Kepribadian Faktor Keturunan Keturunan merujuk pada faktor genetis seorang individu. Tinggi fisik, bentuk wajah, gender, temperamen, komposisi otot dan refleks, tingkat energi dan irama biologis adalah karakteristik yang pada umumnya dianggap, entah sepenuhnya atau secara substansial, dipengaruhi oleh siapa orang tua dari individu tersebut, yaitu komposisi biologis, psikologis, dan psikologis bawaan dari individu. Terdapat tiga dasar penelitian yang berbeda yang memberikan sejumlah kredibilitas terhadap argumen bahwa faktor keturunan memiliki peran penting dalam menentukan kepribadian seseorang. Dasar pertama berfokus pada penyokong genetis dari perilaku dan temperamen anak-anak. Dasar kedua berfokus pada anak-anak kembar yang dipisahkan sejak lahir. Dasar ketiga meneliti konsistensi kepuasan kerja dari waktu ke waktu dan dalam berbagai situasi. Penelitian terhadap anak-anak memberikan dukungan yang kuat terhadap pengaruh dari faktor keturunan. Bukti menunjukkan bahwa sifat-sifat seperti perasaan malu, rasa takut, dan agresif dapat dikaitkan dengan karakteristik genetis bawaan. Temuan ini mengemukakan bahwa beberapa sifat kepribadian mungkin dihasilkan dari kode genetis sama yang memperanguhi faktor-faktor seperti tinggi badan dan warna rambut. Para peneliti telah mempelajari lebih dari 100 pasangan kembar identik yang dipisahkan sejak lahir dan dibesarkan secara terpisah. Ternyata peneliti menemukan kesamaan untuk hampir setiap ciri perilaku, ini menandakan bahwa bagian variasi yang signifikan di antara anak-anak kembar ternyata terkait dengan faktor genetis. Penelitian ini juga memberi kesan bahwa lingkungan pengasuhan tidak begitu memengaruhi perkembangan kepribadian atau dengan kata lain, kepribadian dari seorang kembar identik yang dibesarkan di keluarga yang berbeda ternyata lebih mirip dengan pasangan kembarnya dibandingkan kepribadian seorang kembar identik dengan saudara-saudara kandungnya yang dibesarkan bersama-sama. Faktor Lingkungan Faktor lain yang memberi pengaruh cukup besar terhadap pembentukan karakter adalah lingkungan di mana seseorang tumbuh dan dibesarkan; norma dalam keluarga, teman, dan kelompok sosial; dan pengaruh-pengaruh lain yang seorang manusia dapat alami. Faktor lingkungan ini memiliki peran dalam membentuk kepribadian seseorang. Sebagai contoh, budaya membentuk norma, sikap, dan nilai yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya dan menghasilkan konsistensi seiring berjalannya waktu sehingga ideologi yang secara intens berakar di suatu kultur mungkin hanya memiliki sedikit pengaruh pada kultur yang lain. Misalnya, orang-orang Amerika Utara memiliki semangat ketekunan, keberhasilan, kompetisi, kebebasan, dan etika kerja Protestan yang terus tertanam dalam diri mereka melalui buku, sistem sekolah, keluarga, dan teman, sehingga orang-orang tersebut cenderung ambisius dan agresif bila dibandingkan dengan individu yang dibesarkan dalam budaya yang menekankan hidup bersama individu lain, kerja sama, serta memprioritaskan keluarga daripada pekerjaan dan karier. (Robbins, 2007):memberi defenisi karakteristik kepribadian seseorangsebagaiberikut : 1. Ekstraver versus Introvert. Individu dengan karakteristik ekstravert digambarkan sebagai individu yang ramah, suka bergaul, dan tegas. Sedangkan individu dengan karakteristik introvert digambarkan sebagai individu yang pendiam dan pemalu 2. Sensitif versus Intuitif. Individu dengan karakteristik sensitif digambarkan sebagai individu yang praktis dan lebih menyukai rutinitas dan urutan. Mereka berfokus pada detail. Sebaliknya, individu dengan karakteristik intuitif mengandalkan proses-proses tidak sadar dan melihat gambaran umum 3. Pemikir versus Perasa. Individu yang termasuk dalam karakteristik pemikir menggunakan alasan dan logika untuk menganangi masalah, sednagkan individu dengan karakteristik perasa mengandalkan nilai-nilai dan emosi pribadi mereka 4. Memahami versus Menilai. Individu yang cenderung memiliki karakteristik memahami menginginkan kendali dan lebih suka dunia mereka teratur dan terstruktur, sedangkan individu dengan karakteristik menilai cenderung lebih fleksibel dan spontan. Model Kepribadian Lima Besar (Kepribadian the Big Five) Kepribadian lima besar meliputi ekstaversi (extravertion), mudah akur atau mudah bersepakat (agreeableness), sifat berhati-hati (conscientiousness), stabilitas emosi (emotional stability), dan terbuka terhadap hal-hal baru (openness to experience). 1. Esktraversi. Dimensi ini mengungkapkan bahwa tingkat kenyamanan seseorang dalam berhubungan dengan individu lain. Individu yang memiliki sifat ekstraversi cenderung suka hidup berkelompok, tegas, dan mudah bersosialisasi. Sebaliknya individu yang memiliki sifat introvert cenderung suka menyendiri, penakut dan pendiam. 2. Mudah akur atau bersekapakat. Dimensi merujuk pada kecenderungan individu untuk patuh terhadap individu lainnya. Individu sangat mudah bersepakat adalah individu yang tidak mudah bersepakat cenderung bersikap dingin, tidak ramah, dan suka menentang. 3. Sifat kehati-hatian. Dimensi ini merupakan ukuran kepercayaan. Individu yang sangat berhati-hati adalah individu yang bertanggungjawab, teratur, dapat diandalkan, dan gigih. Sebaliknya, individu dengan dengan sifat kehati-hatian yang rendah cenderung mudah bingung, tidak teratur, dan tidak bisa diandalkan. 4. Stabilitas emosi. Sering juga disebut berdasarkan kebalikannya yaitu neurosis. Dimensi ini menilai kemampuan seseorang untuk menahan stres. Individu dengan stabilitas emosi positif cenderung tenang, pecaya diri dan memiliki pendirian yang teguh. Sementara individu dengan stabilitas emosi yang negatif cenderung mudah gugup, khawatir, depresi, dan tidak memiliki pendirian yang teguh. 5. Terbuka terhadap hal-hal baru. Dimensi ini merupakan dimensi terakhir yang mengelompokkan individu berdasarkan lingkup minat dan ketertarikannya terhadap hal-hal baru. Individu yang sangat terbuka, kreatif, ingin tau dan sensitif terhadap hal yang bersifat seni. Sebaliknya mereka yang tidak terbuka cenderung memiliki sifat konvensional dan merasa nyaman dengan hal-hal yang telah ada.
3. Tips Menjadi Pribadi Yang Kharismatik
Anda pasti sering melihat dan bahkan kagum dengan
sosok yang kharismatik, contohnya saja ketika Anda melihat sosok seorang
pimpinan di suatu perusahaan atau sosok lain yang telah meraih puncak
kesuksesannya. Mungkin sebagian besar dari Anda berpikir, Anda ingin
menjadi seperti mereka, yang menyampaikan segala sesuatu yang ada di
pemikirannya dengan percaya diri.
Kharismatik merupakan suatu sifat yang dimiliki oleh
pribadi yang sukses atau berhasil, memang tidaklah mudah untuk memiliki
sifat demikian. Namun, ada beberapa hal yang bisa kita pelajari untuk
menjadi seseorang yang kharismatik, mulai dari hal-hal kecil ini akan
tumbuh menjadi suatu yang besar.
- Dimulai dari diri sendiri.
Tanamkan dalam benak Anda bahwa Anda adalah seseorang yang memiliki jiwa Kharismatik. Dengan cara bertindak layaknya seorang yang kharismatik, seperti percaya diri, ramah dan bijaksana. Menganggap diri Anda adalah seorang yang kharismatik dan anggaplah bahwa Anda di pandang layaknya seorang yang kharismatik oleh orang lain. Lihat hasilnya, Anda akan terbentuk menjadi seorang yang Kharismatik tanpa Anda sadari.
- Menatap lawan bicara.
Biasakan untuk menatap lawan bicara Anda saat melakukan komunikasi dua arah. Perhatikan bola matanya, banyak orang yang merasa canggung atau tidak terbiasa untuk memperhatikan mata lawan bicaranya karena merasa tidak percaya diri. Berlatihlah dengan orang terdekat Anda, jika sudah terbiasa cobalah terapkan kepada orang lain. Selain itu dengarkan dengan seksama apa yang lawan bicara Anda katakan. Memang sulit untuk melakukan poin ini, karena Anda harus melawan egoisme diri Anda untuk mendengarkan apa yang lawan bicara Anda katakan yang belum tentu Anda tertarik dengan apa yang dibicarakan.
- Percaya diri saat menyapa orang yang belum dikenal.
Orang yang kharismatik mampu untuk menyapa orang lain yang belum dikenalnya dengan penuh percaya diri. Anda mungkin merasa malu, malas, canggung, atau gugup saat ingin menyapa orang asing yang belum Anda kenal. Sebisa mungkin kuasai diri Anda menyimpan semua perasan itu, karena orang yang kharismatik memiliki tingkat kepercayaan diri yang cukup tinggi termasuk untuk memulai perkenalan atau pembicaraan dengan orang asing yang belum dikenal.
- Ingat nama orang lain dan hal-hal kecil lainnya.
Orang yang kharismatik jika bertemu dengan orang lain sanggup untuk menyapa dan mengingat kejadian – kejaian kecil yang orang lain anggap tidak penting tetapi hal tersebut yang membuat orang lain merasa dipentingkan. Mengingat nama orang lain, kedengarannya memang mudah. Tetapi jika Anda tidak dengan bersungguh-sungguh membuka diri untuk orang lain, terkadang Anda sering mengabaikan nama orang yang baru Anda kenal. Biasakan untuk mengingat nama, kejadian-kejadian saat Anda bertemu dengan orang tersebut pertama kali.
- Carilah tokoh teladan.
Carilah orang sukses yang Anda teladani. Perhatikan cara mereka berjalan, duduk, berbicara, apapun gerak gerik yang membuat orang tersebut berkharisma. Dengan demikian Anda terpacu untuk menjadi sepertinya. Namun Anda bukanlah dia, tetaplah untuk menjadi diri Anda sendiri.4. Kepemimpinan Karismatik (charismatic leadership)Kepemimpinan kharismatik (charismatic leadership): Kharisma diartikan “keadaan atau bakat yang dihubungkan dengan kemampuan yang luar biasa dalam hal kepemimpinan seseorang untuk membangkitkan pemujaan dan rasa kagum dari masyarakat terhadap dirinya” atau atribut kepemimpinan yang didasarkan atas kualitas kepribadian individu.
Pemimpin kharismatik menampilkan ciri-ciri sebagai berikut: (a) memiliki visi yang amat kuat atau kesadaran tujuan yang jelas. (b) mengkomunikasikan visi itu secara efektif. (c) mendemontrasikan konsistensi dan fokus (d) mengetahui kekuatan-kekuatan sendiri dan memanfaatkannya. Gaya kepemimpinan karismatis dapat terlihat mirip dengan kepemimpinan transformasional, di mana pemimpin menyuntikkan antusiasme tinggi pada tim, dan sangat enerjik dalam mendorong untuk maju. Namun demikian, pemimpin karismatis cenderung lebih percaya pada dirinya sendiri daripada timnya. Ini bisa menciptakan resiko sebuah proyek atau bahkan organisasi akan kolaps bila pemimpinnya pergi. Selain itu kepemimpinan karismatis membawa tanggung-jawab yang besar, dan membutuhkan komitmen jangka panjang dari pemimpin. Seorang pemimpin yang kharismatik memiliki karakteristik yang khas yaitu daya tariknya yang sangat memikat sehingga mampu memperoleh pengikut yang sangat besar dan para pengikutnya tidak selalu dapat menjelaskan secara konkret mengapa orang tertentu itu dikagumi. Pengikutnya tidak mempersoalkan nilai, sikap, dan perilaku serta gaya yang digunakan pemimpin.
Pemimpin kharismatik mempunyai kebutuhan yang tinggi akan kekuasaan, percaya diri, serta pendirian dalam keyakinan dan cita-cita mereka sendiri. Suatu kebutuhan akan kekuasaan memotivasi pmimpin tersebut untuk mencoba mempengaruhi para pengikut. Rasapercaya diri dan pendirian yang kuat meningktkan rasa percaya para pengikut terhadap pertimbangan dan pendapat pemimpin tersebut. Seorang pemimpin tanpa pola cirri yang demikian lebih kecil kemungkinannya akan mencoba mempengaruhi orang. Dan jika berusaha mempengaruhi maka lebih kecil kemungkinan untuk berhasil.
Kesuksesan mempengaruhi bawahan dapat diwujudkan apabila pemimpin mempunyai akhlak dan sifat yang terpuji. Dengan cirri dan sifat tersebut pemimpin akan dikagumi oleh para pengikutnya.
Pemimpin kharismatik menekankan tujuan-tujuan idiologis yang menghubungkan misi kelompok kepada nilai-nilai, cita-cita, serta aspirsi-aspirasi yang berakar dalam yang dirasakan bersama oleh para pengikut. Selain itu kepemimpinan kharismatik juga didasarkan pada kekuataan luar biasa yang dimiliki oleh seorang sebagai pribadi. Pengertian sangat teologis, karena untuk mengidentifikasi daya tarik pribadi yang melekat pada diri seseorang , harus dengan menggunakan asumsi bahwa kemantapan dan kualitas kepribadian yang dimilikiadalah merupakan anugerah tuhan. Karena posisinya yang demikian itulah maka ia dapat dibedakan dari orang kebanyakan, juga karena keunggulan kepribadian itu, ia dianggap (bahkan) diyakini memiliki kekuasan supra natural, manusia serba istimewa atau sekurang-kurangnya istimewa dipandang masyarakat.
Tipe kepemimpinan karismatik dapat diartikan sebagai kemampuan menggunakan keistimewaan atau kelebihan sifat kepribadian dalam mempengaruhi pikiran, perasaan dan tingkah laku orang lain, sehingga dalam suasana batin mengagumi dan mengagungkan pemimpin bersedia berbuat sesuatu yang dikehendaki oleh pemimpin. Pemimpin disini dipandang istimewa karena sifat-sifat kepribadiannya yang mengagumkan dan berwibawa. Dalam kepribadian itu pemimpin diterima dan dipercayai sebagai orang yang dihormati, disegani, dipatuhi dan ditaati secara rela dan ikhlas. Kepemimpinan kharismatik menginginkan anggota organisasi sebagai pengikutnya untuk mengadopsi pandangan pemimpin tanpa atau dengan sedikit mungkin perubahan.
Karakteristik pemimpin yang karismatik dijelaskan oleh Purwanto sebagai berikut :
1) Mempunyai daya penarik yang sangat besar, karena itu umumnya mempunyai pengikut yang jumlahnya juga besar.
2) Pengikutnya tidak dapat menjelaskan, mengapa mereka tertarik mengikuti dan menaati pemimpin itu.
3) Seolah-olah mempunyai kekuatan gaib.
4) Karisma yang dimiliki tidak bergantung pada umur, kekayaan, kesehatan, ataupun ketampanan si pemimpin.
Sementara itu, Nurkolis mengungkapkan bahwa seorang pemimpin karismatik mempunyai tujuh karakteristik kunci, yaitu percaya diri, memiliki visi, memiliki kemampuan untuk mengartikulasikan visi, memiliki pendirian yang kuat terhadap visinya, memiliki perilaku yang berbeda dari kebiasaan orang, merasa sebagai agen pembaru dan sensitif terhadap lingkungan.
Leadership part 1 *
Dikutip dari tulisan Ann Ruth Willner dan Dorothy Willner istilah ‘pemimpin kharismatik’ kini bermakna semakin meluas. Namun juga disertai dengan pemerosotan arti yang terkandung.
Secara historis, Max Weber mengambil istilah charisma dari perbendaharaan kata yang dipakai pada permulaan pengembangan agama Kristen guna menunjuk satu dari tiga jenis kekuasaan (authority) dengan pengklarifikasian klasik mengenai kekuasaan atas dasar suatu tuntutan yang sah.
Weber membedakan antara:
- Kekuasaan tradisional atas dasar suatu kepercayaan yang telah ada (estabilished) pada kesucian tradisi kuno.
- Kekuasaan yang rasional atau berdasarkan hukum (legal) yang didasarkan atas kepercayaan terhadap legalitas peraturan-peraturan dan hak bagi mereka yang memegang kedudukan, yang berkuasa berdasarkan peraturan-peraturan untuk mengeluarkan perintah.
- Kekuasaan kharismatik yang didapatkan atas pengabdian diri atas kesucian, sifat kepahlawanan atau yang patut dicontoh dari ketertiban atas kekuasaannya.
Kharismatik diyakini memiliki sesuatu yang luar biasa. Memimpin dengan cara yang tidak lazim dari sesuatu yang telah dikenal. Serta mampu mematahkan hal-hal terdahulu untuk kemudian menciptakan hal-hal baru bersifat revolusioner yang mampu tumbuh dalam keadaan serumit apapun.
Dari segi kemunculannya, kharisma yang disematkan pada seorang pemimpin lazimnya terlontar pada persepsi rakyat yang dipimpinnya. Dengan demikian, dapat didefinisikan kembali (tanpa keluar dari maksud Weber yang hakiki) Kharismatik adalah kemampuan seorang pemimpin untuk mendapatkan kehormatan, ketaatan serta kehebatannya sebagai sumber dari kekuasaan tersebut dengan penekanan dalam setiap interaksinya (antara pemimpin dan pengikutnya) harus terdapat suatu integritas yang continue. Dengan kata lain, diwajibkan akan adanya kesadaran pada benak kita untuk bersatu pada satu tujuan, satu keinginan, satu cita-cita, satu harapan, dan satu perjuangan. Kemudian, barulah kita berharap akan muncul sosok pemimpin kharismatik yang dicintai, dihargai, dan dihormati.
Tentu saja, pemimpin kharismatik adalah pemimpinan nasional yang mampu menggandeng semua kelompok, golongan, etnis, suku, agama dan siapapun saja untuk mendapatkan kesetiaan.
*sengaja dibagi kedalam beberapa part, agar tidak bosan dalam membaca.
Anda mungkin pernah menemukan pemimpin yang begitu memukau anda. Kalau mereka bicara, kita terpesona oleh kata-kata mereka dan tertarik oleh argumentasi mereka yang kita tidak mampu membantahnya.
Mereka agaknya memiliki energi yang sulit dijelaskan dan mampu memberikan inspirasi dan motivasi pada diri kita. Mereka mampu menyentuh getar emosi kita melebihi pikiran rasional kita.
Banyak hal terjadi kalau mereka ada di sekitar kita. Tiba-tiba ada perubahan. Tiba-tiba kita mau melaksanakan yang mereka anjurkan tanpa terlalu banyak protes. Tiba-tiba kita merasa bangga hanya dekat dengan pemimpin itu. Kita mungkin juga bekerja demikian keras agar kita bisa melampaui harapan pemimpin itu.
Di atas segalanya, kita digerakkan oleh mereka, dan sering, kita jadi pengikut mereka. Apa inti kekuatan mereka? Karisma. Ya inilah penyebabnya. Tapi ketika kita berusaha mengungkap karisma itu, dan berusaha menirunya, kita mengalami kesulitan.
Pelatihan ini akan membongkar secara tuntas apa saja yang membuat pemimpin menjadi pemimpin karismatik. Dengan berbagai riset yang intensif, ‘rahasia’ pemimpin karismatik telah terungkap tuntas. Ternyata siapa pun bisa menjadi orang karismatik, asal tahu caranya…Dengan mengikuti pelatihan ini, anda akan menemukan taktik, dan strategi yang bisa anda terapkan sehingga anda bisa menjadi seorang yang karismatik atau menjadi pemimpin karismatik.
Mengapa harus karismatik? Karena dengan menjadi karismatik, anda akan menjadi pusat perhatian orang. Kata-kata anda dituruti orang. Jika anda penjual, penjualan akan mudah. Jika anda dosen, kata-kata anda akan didengar mahasiswa. Jika anda pemimpin, bawahan anda akan patuh dengan sepenuh hati kepada anda…
Artikel kali ini membahas tentang kepemimpinan yang menurut saya membutuhkan interaksi antara pimpinan dan bawahan. Dengan kharismatik bawahan akan merasa nyaman anda pimpin dan menuruti arahan anda. Dalam teori kepemimpinan ada 3 jenis kepemimpinan, yaitu :
1. Modern Choice Approach to Participation (Vroom & Yetton)
Model ini mengarah kepada pemberian suatu rekomendasi tentang gaya kepemimpinan yang sebaiknya digunakan dalam situasi tertentu.Menurut teori ini, gaya kepemimpinan yang tepatditentukan oleh corak persoalan yang dihadapioleh macam keputusanyang harus diambil. Ada tiga perangkat parameter yang penting dalam gaya kepemimpinan teori ini, yaitu klasifikasi gaya kepemimpinan, kriteria efektifitas keputusan, kriteria penemukenalan jenis situasi pemecahan persoalan.
2. Contingensi of Leadership (Fiedler)
Model ini menyatakan bahwa gaya kepemimpinan yang paling efektif tergantung pada situasi yang dihadapi dan perubahan gaya bukan merupakan suatu hal yang sulit. Konsepsi kepemimpinan situasional ini melengkapi pemimpin dengan pemahaman dari hubungan antara gaya kepemimpinan yang efektif dengan tingkat kematangan bawahannya. Perilaku bawahan ini amat penting untuk mengetahui kepemimpnan situasional, karena bukan saja bawahan sebagai individu bisa menerima atau menolak pemimpinnya, akan tetapi sebagai kelompok, bawahan dapat menentukan kekuatan pribadi apapun yang dimiliki pemimpin.Model ini menyatakan bahwa keefektifan suatu kelompok bergantung pada hubungan dan interaksi pemimpin dengan bawahannya, dan sejauh mana pemimpin mengendalikan dan mempengaruhi situasi.
3. Path-Goal Theory
Dasar dari teori ini adalah bahwa merupakan tugas pemimpin untuk membantu anggotanya dalam mencapai tujuan mereka dan untuk memberi arah dan dukungan atau keduanya yang dibutuhkan untuk menjamin tujuan mereka sesuai dengan tujuan kelompok atau organisasi secara keseluruhan. Model ini menganjurkan bahwa kepemimpinan terdiri dari dua fungsi dasar, yaitu memberi kejelasan alur dan meningkatkan jumlah hasil (reward) bawahannya.